Padang, 4 Maret 2025 – Rangkaian Kajian Dzuhur Ramadhan 1446 H yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Padang (FEB UNP) memasuki hari kedua pada Selasa, 4 Maret 2025. Kajian kali ini disampaikan oleh Prof. Dr. Syamsul Amar B, MS, dengan tema “Hakikat dan Esensi Bersyukur.”

Kajian ini dimoderatori oleh Dr. Mia Ayu Gusti, S.E., MM dan dibuka dengan pembacaan Al-Qur’an oleh Ridha Azka Raga, S.E., M.Ak. Dalam kesempatan ini, Prof. Dr. Syamsul Amar B, MS menyampaikan pesan penting tentang hakikat bersyukur dalam kehidupan umat manusia, yang mana segala sesuatu yang kita terima berasal dari Allah. Menurut beliau, Allah adalah pemilik otoritas atas segala yang ada dalam diri kita. Oleh karena itu, kita diajarkan untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya, mulai dari udara yang kita hirup, darah yang mengalir dalam tubuh kita, hingga jantung yang terus berdetak.

Mengutip QS. An-Nahl ayat 14, beliau menjelaskan bahwa kita tidak akan mampu menghitung nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan. Prof. Syamsul juga mengajak para peserta kajian untuk merenung, apakah kita sudah memahami esensi dari bersyukur, dan bagaimana implikasi syukur tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Syukur, lanjutnya, berasal dari bahasa Arab yang artinya “mata air yang melimpah ruah.” Dalam QS. Ibrahim ayat 7, dijelaskan bahwa jika kita bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya kepada kita, namun jika kita tidak bersyukur, Allah akan memberikan azab sebagai ganjarannya.

Dalam kajian ini, Prof. Syamsul menekankan bahwa terdapat 75 ayat dalam Al-Qur’an yang mengajak umat Islam untuk bersyukur, menandakan bahwa bersyukur adalah hal yang sangat penting dalam ajaran Islam. Salah satunya terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 152 yang berbunyi, “Ingatlah kamu kepada-Ku, maka Aku akan mengingatmu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan jangan ingkar kepada-Ku.”

Prof. Syamsul juga menjelaskan bahwa bersyukur bukan hanya soal mengucapkan terima kasih secara lisan, tetapi juga harus tercermin dalam hati dan tindakan. Ada tiga tingkatan dalam bersyukur, yaitu:

  1. Syukur Qalbi (hati kita yang mengakui nikmat Allah).
  2. Syukur Lisan (mengucapkan syukur dengan lisan).
  3. Syukur dengan perbuatan tubuh atau tindakan nyata.

Ketiga aspek ini, menurut Prof. Syamsul, harus berjalan seiring dan saling mendukung. Sebagai contoh, jika diberikan ilmu, kita harus bersyukur dengan cara tidak pelit berbagi ilmu tersebut. Beliau juga mengingatkan bahwa jika nikmat yang diberikan Allah tidak digunakan sesuai dengan syariat, maka nikmat tersebut bisa berubah menjadi istidraj, yaitu pemberian yang seolah-olah baik namun sebenarnya akan membawa keburukan.

Kajian ini berlangsung dengan penuh antusiasme, diikuti oleh para dosen FEB UNP, yang semakin menyadari pentingnya sikap bersyukur dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Dengan tema dan pembahasan yang sangat relevan, kajian ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh peserta untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah.

Scroll to Top